Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Majalah Time memilih petugas medis Ebola sebagai sosok tahunan 2014.
Mereka berhasil mengalahkan tujuh nominator lainnya yakni para
demonstran Ferguson, Presiden Rusia Vladimir Putin, penyanyi muda dan
berbakat Taylor Swift, CEO perusahaan Apple Tim Cook, pendiri situs
e-commerce Alibaba Jack Ma, Presiden sementara wilayah Kurdistan Irak
Masoud Barzani, dan Komisioner Liga Nasional Sepak Bola (NFL) Roger
Goodell.
Dilansir dari situs resmi Majalah Time hari ini, sebagai
pemenang, sosok para petugas medis Ebola akan menjadi sampul di halaman
depan dan cerita utama. Menurut pemimpin redaksi Time, Nancy Gibbs, para petugas medis ini merupakan sosok pahlawan di hati semua orang.
Betapa tidak, di saat semua orang memilih menjauhi pasien Ebola
akibat takut tertular penyakit mematikan tersebut, mereka rela
menanggung risiko itu, agar penyakitnya tidak meluas.
"Ketika kasus Ebola pertama kali muncul, dunia seolah-olah menilai
tidak ada dampak apa pun, bahkan ketika potensi bahaya tersebut kian
tumbuh. Namun, mereka yang berada di lapangan seperti petugas medis
khusus dari organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF), pekerja medis Kristen,
Samaritan Purse, dan petugas medis lainnya dari seluruh dunia, bahu
membahu dengan dokter lokal mengatasi penyakit itu," ujar Gibbs.
Ketika Time bertanya apa yang mendorong mereka bersedia melakukan
pekerjaan itu, beberapa di antara mereka mengatakan karena panggilan
Tuhan. Ada juga yang menyebut demi negara dan beberapa petugas medis
lainnya mengikuti insting untuk mengatasi penyakit tersebut dan bukan
melarikan diri.
"Jika seseorang dari Amerika datang untuk membantu warga saya dan
orang dari Uganda juga bersedia melakukan hal yang sama, lalu mengapa
saya tidak bisa?," tanya seorang perawat asal Liberia, Iris Martor.
Sementara itu, pengendara mobil ambulans yang berhasil selamat dari
infeksi Ebola, Foday Gallah, menyebut kekebalan tubuhnya merupakan
sebuah berkah.
"Saya ingin memberikan darah saya kepada banyak orang, sehingga
mereka bisa selamat. Saya akan berjuang melawan Ebola dengan semua
kekuatan yang ada," tegas Gallah.
Lain lagi dengan kisah asisten perawat MSF, Salome Karwah. Kendati
dia kehilangan kedua orangtuanya akibat Ebola, Karwah tidak sedikit pun
gentar. Dia tetap berada di samping tempat tidur pasien Ebola,
memandikan dan menyuapi makanan mereka.
"Sepertinya Tuhan memberikan saya kesempatan kedua untuk membantu orang lain," kata Karwah.
Keliru
Menurut Gibbs, masyarakat internasional terlihat keliru dalam
menangani penyakit ini. Menjadi tantangan tersediri, bagaimana cara
mengamankan sebuah negara dari Ebola, hanya dengan mengandalkan
pengukuran suhu tubuh penumpang di bandara.
Bahkan, kata Gibss, akibat pandemi ini, terkuak betapa korupnya
sistem pemerintahan di Benua Afrika. Hal itu, memicu ketidakpercayaan
dari Ibu kota Monrovia hingga ke Manhattan.
Kelirunya penanganan Ebola yang paling jelas terlihat, ketika
pasien Ebola asal Liberia, Thomas Eric Duncan, bisa lolos ke Dallas,
Amerika Serikat. Hal tersebut, membuat ketakutan pemerintah setempat,
sehingga mengambil langkah seperti pentupan sebuah SMA di Ohio, hanya
karena salah seorang pegawai mereka naik pesawat maskapai yang sama
dengan dokter yang merawat Duncan.
"Pegawai sekolah itu tidak berada di dalam satu pesawat dengan perawat itu, namun naik maskapai yang sama," tulis Gibbs.
Bahkan, ketika seorang perawat di Spanyol terinfeksi Ebola dari
pendeta, otoritas setempat juga bertindak berlebihan. Mereka membunuh
anjing peliharaan perawat itu. Bahkan, tagar #VamosAMorirTodos (kita semua akan mati) menjadi topik hangat di Twitter.
"Karena ada sekelompok pria dan wanita yang bersedia untuk berjuang
melawan Ebola, maka dunia tetap bisa tidur nyaman di malam hari. Maka,
atas pengorbanan dan ketekunan itu, para petugas medis Ebola menjadi
sosok tahunan 2014 Majalah Time," kata Gibbs.
Di bawah petugas medis Ebola, terdapat para demonstran Ferguson,
Putin di posisi ketiga, Presiden sementara daerah Kurdi Massoud Barzani
meraih peringkat keempat, dan Jack Ma di posisi kelima.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo, kendati sempat masuk nominasi,
namun gagal masuk finalis delapan besar. Perolehan suara untuk polling
pembaca pun juga tidak terlalu memuaskan. Dia duduk di posisi ke-8
dengan perolehan 2,7 persen suara.
VIVA.co.id

0 komentar:
Posting Komentar