Home » » Petugas Medis Ebola Terpilih Jadi Sosok Tahunan 2014 Majalah Time

Petugas Medis Ebola Terpilih Jadi Sosok Tahunan 2014 Majalah Time

Posted by CB Blogger

Sampul depan majalah Time yang memilih petugas medis Ebola sebagai sosok tahun 2014. (10/12/2014) 
Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Majalah Time memilih petugas medis Ebola sebagai sosok tahunan 2014.

Mereka berhasil mengalahkan tujuh nominator lainnya yakni para demonstran Ferguson, Presiden Rusia Vladimir Putin, penyanyi muda dan berbakat Taylor Swift, CEO perusahaan Apple Tim Cook, pendiri situs e-commerce Alibaba Jack Ma, Presiden sementara wilayah Kurdistan Irak Masoud Barzani, dan Komisioner Liga Nasional Sepak Bola (NFL) Roger Goodell.

Dilansir dari situs resmi Majalah Time hari ini, sebagai pemenang, sosok para petugas medis Ebola akan menjadi sampul di halaman depan dan cerita utama. Menurut pemimpin redaksi Time, Nancy Gibbs, para petugas medis ini merupakan sosok pahlawan di hati semua orang.

Betapa tidak, di saat semua orang memilih menjauhi pasien Ebola akibat takut tertular penyakit mematikan tersebut, mereka rela menanggung risiko itu, agar penyakitnya tidak meluas.

"Ketika kasus Ebola pertama kali muncul, dunia seolah-olah menilai tidak ada dampak apa pun, bahkan ketika potensi bahaya tersebut kian tumbuh. Namun, mereka yang berada di lapangan seperti petugas medis khusus dari organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF), pekerja medis Kristen, Samaritan Purse, dan petugas medis lainnya dari seluruh dunia, bahu membahu dengan dokter lokal mengatasi penyakit itu," ujar Gibbs.

Ketika Time bertanya apa yang mendorong mereka bersedia melakukan pekerjaan itu, beberapa di antara mereka mengatakan karena panggilan Tuhan. Ada juga yang menyebut demi negara dan beberapa petugas medis lainnya mengikuti insting untuk mengatasi penyakit tersebut dan bukan melarikan diri. 

"Jika seseorang dari Amerika datang untuk membantu warga saya dan orang dari Uganda juga bersedia melakukan hal yang sama, lalu mengapa saya tidak bisa?," tanya seorang perawat asal Liberia, Iris Martor.

Sementara itu, pengendara mobil ambulans yang berhasil selamat dari infeksi Ebola, Foday Gallah, menyebut kekebalan tubuhnya merupakan sebuah berkah. 

"Saya ingin memberikan darah saya kepada banyak orang, sehingga mereka bisa selamat. Saya akan berjuang melawan Ebola dengan semua kekuatan yang ada," tegas Gallah. 

Lain lagi dengan kisah asisten perawat MSF, Salome Karwah. Kendati dia kehilangan kedua orangtuanya akibat Ebola, Karwah tidak sedikit pun gentar. Dia tetap berada di samping tempat tidur pasien Ebola, memandikan dan menyuapi makanan mereka.

"Sepertinya Tuhan memberikan saya kesempatan kedua untuk membantu orang lain," kata Karwah. 

Keliru

Menurut Gibbs, masyarakat internasional terlihat keliru dalam menangani penyakit ini. Menjadi tantangan tersediri, bagaimana cara mengamankan sebuah negara dari Ebola, hanya dengan mengandalkan pengukuran suhu tubuh penumpang di bandara.

Bahkan, kata Gibss, akibat pandemi ini, terkuak betapa korupnya sistem pemerintahan di Benua Afrika. Hal itu, memicu ketidakpercayaan dari Ibu kota Monrovia hingga ke Manhattan. 

Kelirunya penanganan Ebola yang paling jelas terlihat, ketika pasien Ebola asal Liberia, Thomas Eric Duncan, bisa lolos ke Dallas, Amerika Serikat. Hal tersebut, membuat ketakutan pemerintah setempat, sehingga mengambil langkah seperti pentupan sebuah SMA di Ohio, hanya karena salah seorang pegawai mereka naik pesawat maskapai yang sama dengan dokter yang merawat Duncan. 

"Pegawai sekolah itu tidak berada di dalam satu pesawat dengan perawat itu, namun naik maskapai yang sama," tulis Gibbs. 

Bahkan, ketika seorang perawat di Spanyol terinfeksi Ebola dari pendeta, otoritas setempat juga bertindak berlebihan. Mereka membunuh anjing peliharaan perawat itu. Bahkan, tagar #VamosAMorirTodos (kita semua akan mati) menjadi topik hangat di Twitter. 

"Karena ada sekelompok pria dan wanita yang bersedia untuk berjuang melawan Ebola, maka dunia tetap bisa tidur nyaman di malam hari. Maka, atas pengorbanan dan ketekunan itu, para petugas medis Ebola menjadi sosok tahunan 2014 Majalah Time," kata Gibbs.

Di bawah petugas medis Ebola, terdapat para demonstran Ferguson, Putin di posisi ketiga, Presiden sementara daerah Kurdi Massoud Barzani meraih peringkat keempat, dan Jack Ma di posisi kelima.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo, kendati sempat masuk nominasi, namun gagal masuk finalis delapan besar. Perolehan suara untuk polling pembaca pun juga tidak terlalu memuaskan. Dia duduk di posisi ke-8 dengan perolehan 2,7 persen suara.
 
VIVA.co.id
 


0 komentar:

Posting Komentar