Gubernur
Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan sudah mengambil tindakan
terhadap wisata seks di Gunung Kemukus, Sragen. Ganjar menjelaskan,
pemda dan DPRD sudah berbicara dengannya dan membuat tahapan-tahapan.
"Yang sudah konkrit sekarang karaoke, rumah-rumah itu, sudah ditutup," kata Ganjar usai mendampingi kunjungan Wapres Jusuf Kalla di Sragen, Jawa Tengah, Jumat 5 Desember 2014.
Namun, Ganjar menegaskan pemerintah daerah tidak bisa sekedar menutup saja. Karena, mereka harus menyelesaikan persoalan intinya.
"Masyarakat yang ada di situ, penghuni sebelumnya mau diapakan," ujarnya.
Ganjar menjelaskan, Sragen adalah daerah yang memiliki ciri khas. Oleh karena itu, perlu diberdayakan secara ekonomi sehingga pada akhirnya turut mengangkat kesejahteraan mereka.
"Saya juga meminta tadi agar didata orang yang ada di sana, kita ajak bicara. Tokoh agama, masyarakat, kita akses mau nya apa," jelasnya.
Dengan demikian, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu berharap, pemerintah bisa membantu tujuan-tujuan yang diinginkan masyarakat.
"Itu kan problemnya ekonomi tho. Problemnya kan perut. Tapi tidak harus dengan seks kan. Bisa dengan yang lain," imbuhnya.
Ganjar menegaskan, soal ibadahnya silakan dilanjutkan. Bahkan pemkab sudah menyediakan tempat untuk acara-acara pengajian, kesenian, dan agenda-agenda positif lain yang melibatkan banyak masyarakat di sana.
"Menurut saya, ini transisi yang harus kita jaga," katanya.
Sedangkan, untuk pengawasan atau pencegahan agar aktivitas prostitusi tidak muncul lagi ke depannya, Ganjar akan membuatkan event-event yang edukatif, dan lebih religius. Dia berpendapat, proyek semacam itu mesti diperbanyak.
"Kalau iya, ya semua pasti juga akan mengalihkan (dari keinginan bisnis prostitusi)," ungkapnya.
"Yang sudah konkrit sekarang karaoke, rumah-rumah itu, sudah ditutup," kata Ganjar usai mendampingi kunjungan Wapres Jusuf Kalla di Sragen, Jawa Tengah, Jumat 5 Desember 2014.
Namun, Ganjar menegaskan pemerintah daerah tidak bisa sekedar menutup saja. Karena, mereka harus menyelesaikan persoalan intinya.
"Masyarakat yang ada di situ, penghuni sebelumnya mau diapakan," ujarnya.
Ganjar menjelaskan, Sragen adalah daerah yang memiliki ciri khas. Oleh karena itu, perlu diberdayakan secara ekonomi sehingga pada akhirnya turut mengangkat kesejahteraan mereka.
"Saya juga meminta tadi agar didata orang yang ada di sana, kita ajak bicara. Tokoh agama, masyarakat, kita akses mau nya apa," jelasnya.
Dengan demikian, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu berharap, pemerintah bisa membantu tujuan-tujuan yang diinginkan masyarakat.
"Itu kan problemnya ekonomi tho. Problemnya kan perut. Tapi tidak harus dengan seks kan. Bisa dengan yang lain," imbuhnya.
Ganjar menegaskan, soal ibadahnya silakan dilanjutkan. Bahkan pemkab sudah menyediakan tempat untuk acara-acara pengajian, kesenian, dan agenda-agenda positif lain yang melibatkan banyak masyarakat di sana.
"Menurut saya, ini transisi yang harus kita jaga," katanya.
Sedangkan, untuk pengawasan atau pencegahan agar aktivitas prostitusi tidak muncul lagi ke depannya, Ganjar akan membuatkan event-event yang edukatif, dan lebih religius. Dia berpendapat, proyek semacam itu mesti diperbanyak.
"Kalau iya, ya semua pasti juga akan mengalihkan (dari keinginan bisnis prostitusi)," ungkapnya.
Contoh Ancol
Mantan Wakil Ketua Komisi
II DPR itu mengingatkan, kondisi serupa pernah dialami oleh Gubernur
legendaris DKI Jakarta, Ali Sadikin. Ketika itu, Ali mencetak sejarah
dengan membuat Ancol dari tempat yang waktu itu bernama Binaria, menjadi
tempat rekreasi yang menyenangkan.
"Itu mohon maaf, dulu tempat mesum. Bisa kan menjadi Ancol. Artinya, ini soal paradigma juga, untuk bisa kita dorong," ujarnya.
Dia mendorong agar dilakukan aktivitas yang menarik. Misalkan dibangun dengan lebih terbuka lagi sehingga menjadi tempat wisata yang sungguh-sungguh untuk religi.
"Dan bisa ditambah value-value yang tempat-tempat yang lebih bisa membikin orang untuk tidak berfikir negatif," ucapnya.
"Itu mohon maaf, dulu tempat mesum. Bisa kan menjadi Ancol. Artinya, ini soal paradigma juga, untuk bisa kita dorong," ujarnya.
Dia mendorong agar dilakukan aktivitas yang menarik. Misalkan dibangun dengan lebih terbuka lagi sehingga menjadi tempat wisata yang sungguh-sungguh untuk religi.
"Dan bisa ditambah value-value yang tempat-tempat yang lebih bisa membikin orang untuk tidak berfikir negatif," ucapnya.

0 komentar:
Posting Komentar