Nasib Sarwan, 47 tahun, boleh dibilang
beruntung dibanding nasib ratusan warga Dusun Jemblung, Desa Sampang. Ia
menjadi salah seorang yang selamat sekaligus saksi mata dari bencana
longsor maut yang menimpa desa itu pada Jumat petang, 12 Desember 2014.
Namun
tetap, peristiwa itu seolah menjadi mimpi buruk yang tak terbayang. Di
hari nahas itu juga ia harus merelakan istrinya, Caswani (40) dan sang
cucu, Nafisa (4), untuk ikut tertimbun di tanah lumpur bercampur
bebatuan.
Hidup kini baginya seolah mimpi buruk. Sarwan harus
merelakan orang-orang tercintanya di depan mata tanpa harus bisa berbuat
apa-apa. "Hari itu semua orang seluruhnya berteriak ketakutan. Tapi
semua tidak bisa apa-apa, semuanya terjebak dan tergulung timbunan
tanah," kata Sarwan kepada VIVAnews saat ditemui di RSUD Banjarnegara.
Kejadian
tak terlupakan itu, tutur Sarwan bermula dari perjalanannya saat hendak
menuju ke rumah. Bapak dua anak ini, memang setiap hari melintasi Dusun
Jemblung Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar Banjarnegara. Karena untuk
menuju ke desanya di Desa Purwodadi, satu-satunya akses hanya melintasi
Dusun Jemblung.
Hari itu, sekitar pukul 17.30 WIB. Sarwan dan
istri berboncengan dengan motor mereka. Sementara sang cucu,
ditumpangkan dengan motor lain teman Sarwan. Karena motor Sarwan tak
cukup kuat untuk berbonceng tiga.
"Saat melintas masuk di jalan
Jemblung, sore itu sangat ramai. Banyak warga di pinggir jalan. Mobil
dan motor juga banyak yang lalu lalang. Tidak ada firasat apapun dari
batin saya," kata Sarwan.
Namun, secara tiba-tiba suara gemuruh
yang begitu kuat terdengar. Suara patahan pohon-pohon terdengar
bersahutan dengan suara batu jatuh. Detik itu, puluhan warga yang berada
di pinggir jalan kaget dan berteriak.
Begitu pun Sarwan,
lantaran panik ia pun otomatis mempercepat laju kendaraan. Namun
terlambat, dalam waktu singkat tiba-tiba runtuhan tanah basah disertai
pohon-pohon yang tumbang berguguran dan menimbun semua yang ada di
pinggir jalan dan pemukiman Dusun Jemblung.
"Semuanya langsung
gelap. Saya dan istri langsung terdorong dan terpental jauh. Saat itulah
saya terpisah dengan istri. Sempat saya lihat cucu saya dan teman yang
membawanya juga tergulung di tanah lumpur," kenang Sarwan berkaca-kaca.
Gelombang
tanah mahadahsyat tersebut, menurut Sarwan bak tsunami. Ia bergelombang
menyeret semua yang ada di depannya. Sarwan pun terserat
hingga 100 meter dan bersama sang istri dan sejumlah warga serta kendaraan yang ada di jalan.
"Suara
gemuruh makin keras karena menabrak pemukiman dan bangunan bangunan.
Saya sudah tidak bisa melihat lagi, karena terserat tanah, hingga
akhirnya tubuh saya terhentak di pohon nangka dan tersangkut hingga
seluruh tanah dibukit usai berjatuhan," kata Sarwan.
Sesaat
kemudian ia baru menyadari bila gelombang tanah itu adalah bencana
longsor. Semuanya berlangsung hanya sekejap mata. Dengan tertatih-tatih,
Sarwan yang berusaha melepaskan diri dari timbunan tanah yang tertahan
di pohon nangka.
Matanya langsung tertuju untuk mencari sang
istri. Beberapa kali Sarwan mencoba memanggil nama istri dan cucunya,
namun tetap tak mendapatkan balasan. Aspal hitam yang tadi dipenuhi
kendaraan dan orang, bak hilang dan sudah tertutup tanah tebal.
"Saya
merayap dan merangkak sambil memanggil nama istri dan cucu. Tapi tidak
ada apa-apa. Di gundukan tanah, saya cuma menemukan helm yang tadi
dipakai istri saya. Hampir 15 menit saya berputar-putar di jalan tempat
kami tadi, tapi tidak ada hasil. Hingga akhirnya, ada orang-orang
kemudian menolong saya," tutur Sarwan dengan raut murung.
Sarwan
pun kemudian langsung diselematkan warga sekitar. Ia langsung dilarikan
ke Rumah Sakit. Dengan tubuh bergelimang tanah, Sarwan yang sudah
setengah sadar langsung dibawa ke UGD RSUD Banjarnegara. Bersamanya,
dibawa juga tujuh orang lain yang ditemukan selamat karena tak sempat
tertimbun tanah.
"Ini seperti mimpi. Saya cuma mengingat kuat
bagaimana istri saya berteriak histeris dan lenyap dalam sekejap di
depan mata. Dan saya tidak bisa melakukan apa-apa," ujar pria bernama
lengkap Sarwan Harianto ini.
Hingga Minggu, 14 Desember 2014,
dari 32 korban tewas yang berhasil dievakuasi, belum ada nama istri dan
cucu Sarwan. Namun ia tetap menguatkan hati menunggu kabar kehadiran
mereka.
"Saya cuma ingin pulang bersama istri saya. Dia sudah janji mau buat makan malam di rumah," kata Sarwan.
Home »
» Kesaksian Korban Longsor: Semuanya Langsung Gelap


0 komentar:
Posting Komentar